Setiap ingin menulis selalu berfikir ingin membaca buku
orang lain, seperti tulisan Mahbub Djunaidi
dan semua yang ada dirak buku,.dalam pikirannya selesai membaca buku itu baru akan
menulis.
Padahal saat belum bisa mengetik seperti sekarang selalu berpikir, ingin punya bolpaoin, kertas
yang bisa dibawa kemana-mana dan ketika ada waktu senggang bisa menulis.
Setelah punya bolpoin dan buku saku ingin keliling dan
menyusuri tempat-tempat yang membuat menginspirasi.
Setelah semua itu dilakukan dan tidak mendapatkan tulisan
yang diinginkan, dirinya menyalahkan dan seakan ada yang kurang. Otak mulai
berfikirlagi dan berhayal.” Seandainya saya punya hp yang bisa ngetik enak ya,
jadi g perlu nulis dua kali?”.
Setelah punya hp, berfikir dan berkhayal lagi. “Seandainya saya
punya leptop enak ya, jadi bisa ngetik kapan dan dimana saja dan bisa oline di
tempat-tempat wifi tanpa harus mindah-mindah tulisan dari leptop ke flesdis dan
kewarnet jika ingin kirim keorang/keblog".
Setelah punya leptop berfikir lagi dan berhayal, “kalau
dirumah punya wifi enak ya jadi g perlu kekantor orang dan numpang
diwarung-warung tidak menghabiskan banyak duit?”
Setalah punya wifi, ternyata masih tidak jadi juga itu
tulisan.
Buseeet dach, pikiran ini kalu dituruti kadang sangat
melemahkan dan banyak hal yang trtunda gara-gara keinginan yang seakan-akan
membantu ternyata tidak ada ujungnya. Keinginan terus dan terus tiada henti. Hingga
akhirnya entah tinggal berapa hari menunggu mati belum juga keinginannya
terealisasi
Jangan menunggu lakukan jika harus dilakukan. Pkiran dan
hayalan beda tipis jika terjebak habis lah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar