Sabtu, 07 Maret 2015

KHAYAL

Setiap ingin menulis selalu berfikir ingin membaca buku orang lain,  seperti tulisan Mahbub Djunaidi dan semua yang ada dirak buku,.dalam pikirannya selesai membaca buku itu baru akan menulis.


Padahal saat belum bisa mengetik seperti sekarang  selalu berpikir, ingin punya bolpaoin, kertas yang bisa dibawa kemana-mana dan ketika ada waktu senggang bisa menulis.

Setelah punya bolpoin dan buku saku ingin keliling dan menyusuri tempat-tempat yang membuat menginspirasi.

Setelah semua itu dilakukan dan tidak mendapatkan tulisan yang diinginkan, dirinya menyalahkan dan seakan ada yang kurang. Otak mulai berfikirlagi dan berhayal.” Seandainya saya punya hp yang bisa ngetik enak ya, jadi g perlu nulis dua kali?”.

Setelah punya hp, berfikir dan berkhayal lagi. “Seandainya saya punya leptop enak ya, jadi bisa ngetik kapan dan dimana saja dan bisa oline di tempat-tempat wifi tanpa harus mindah-mindah tulisan dari leptop ke flesdis dan kewarnet jika ingin kirim keorang/keblog".

Setelah punya leptop berfikir lagi dan berhayal, “kalau dirumah punya wifi enak ya jadi g perlu kekantor orang dan numpang diwarung-warung tidak menghabiskan banyak duit?”

Setalah punya wifi, ternyata masih tidak jadi juga itu tulisan.

Buseeet dach, pikiran ini kalu dituruti kadang sangat melemahkan dan banyak hal yang trtunda gara-gara keinginan yang seakan-akan membantu ternyata tidak ada ujungnya. Keinginan terus dan terus tiada henti. Hingga akhirnya entah tinggal berapa hari menunggu mati belum juga keinginannya terealisasi


Jangan menunggu lakukan jika harus dilakukan. Pkiran dan hayalan beda tipis jika terjebak habis lah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar